Wednesday, March 6, 2019

"MANAQIB SYEKH SAMMAN AL-MADANI AL-HASANI"



(Sang Pendiri Tarekat Sammaniyah & Penjaga Makam Rasulullah Saw.)

Nama beliau adalah Ghauts az-Zaman al-Waliy Quthb al-Akwan asy-Syekh Muhammad bin Abdul Karim as-Samman al-Madani keturunan Sayyidina Hasan bin Sayyidina Ali dengan Sayyidah Fatimah az-Zahra binti Sayyidina Rasulullah Saw
Beliau adalah ulama besar dan wali agung berdarah Ahlul Bait Nabi beraqidah Ahlussunnah wal Jama’ah dengan Imam Asy’ari dalam bidang teologi atau aqidah, dan Imam asy-Syafi’i madzab fiqih furu’ ibadatnya, dan Imam Junaid al-Baghdadi dalam tasawufnya.
Beliau Ra. tinggal di Madinah menempati rumah yang pernah ditinggali Khalifah pertama, yakni Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq Ra. (seorang Shiddiq yang paling agung yang tiada bandingannya, kecuali para Anbiya wal Mursalin).
Guru mursyid beliau diantaranya adalah Sayyidina Syekh Musthafa Bakri, seorang wali agung dari Syiria, keturunan Sayyidina Abu Bakar Shiddiq Ra. dari pihak ayah, sedangkan dari pihak ibu keturunan Sayyidina Husein Sibthi Rasulullah Saw.
Pangkat kewalian beliau adalah seorang Pamungkas para wali, yakni Ghauts Zaman, dan wali Quthb al-Akwan, yakni kewalian yang hanya bisa dicapai oleh para sadah yang dalam tiap periode 200 tahun sekali. Dan beliau adalah Khalifah Rasulullah pada zamannya.
Beliau banyak memiliki karomah yang tidak bisa dihitung jumlahnya, bahkan sampai saat inipun karamah itu terus ada. Karamah agung beliau adalah pangkat kewaliannya yang begitu agung. Beliau mendapat haq memberi syafaat 70.000 umat manusia masuk syurga tanpa hisab.
Diantara murid-murid beliau dari Indonesia yaitu:
1.      Quthb az-Zaman Syekh muhammad Arsyad al-Banjari
2.      Quthb al-Maktum Syekh Abul Abbas Ahmad at-Tijani (pendiri tarekat Tijani)
3.      Al-Quthb Syekh Abdussamad al-Palimbani
4.      Al-Quthb Syekh Abdul Wahab Bugis (menantu Syekh Arsyad al-Banjari)
5.      Al-Qutb Syekh Abdurrahman al-Batawi (kakek Mufti betawi dari pihak ibu Habib Utsman Betawi)
6.      Al-Quthb Syekh Dawud al-Fathani, dan lain-lain.
Dan diantara keagungan dan kemuliaan beliau yang amat banyak diantaranya adalah; semua murid beliau yang jumlahnya ribuan menempati maqam Quthb. Beliau menempati kemuliaan karena beliau berada pada jalan Rasulullah Saw. dan para sahabatnya, yakni Ahlussunnah wal Jama’ah.
Demikian lah kesuksesan Syekh Samman dalam mendidik ruhani murid-muridnya sehingga mereka yang berjumlah ribuan menempati maqam Quthb, apatah lagi Rasulullah Saw. dengan para murid-muridnya yakni para sahabat, tentu maqam kewaliannya sangat agung, karena mereka mendapat keistimewaan menyertai kekasihNya (Muhammad Saw.), dan apa-apa yang menjadi Nubuwat Rasulullah Saw. dalam kitab-kitab terdahulu, maka pasti menceritakan dan memuji para Qudus agung yang menyertai kekasihNya, yakni para sahabat Rasulullah Saw.
Al-Quthb al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi berkata: “Serendah-rendahnya martabat sahabat maka tidak akan bisa dicapai walau oleh 70 Imam Junaid al-Baghdadi”. Padahal Imam Junaid hidup pada zaman salaf dan menempati Sulthon al-Auliya pada zamannya.
Karena para sahabat ini adalah para wali agung, maka para ahli tasawwuf (Aswaja) sangat sopan dengan mereka, tidak menceritakan mereka kecuali kebaikan. Sehingga wajib hukumnya berprasangka baik dengan para Auliya. Lebih-lebih lagi para sahabat yang notabene adalah hasil didikan langsung Rasulullah Saw. yang menempati Shiddiq dalam kewalian.
Maka dari itu, ummat Islam Aswaja tidak akan membicarakan panjang lebar tentang pertikaian antar sahabat, baik itu antara Sayyidah Aisyah dengan Sayyidina Ali Kw, pada perang Jamal, maupun antara Sayyidina Ali Kw. pada satu pihak dengan Sayyidina Muawiyah Ra. pada pihak lain.
Kita kaum Aswaja tidak akan mengotori mulut kita dengan umpatan dan negatif thinking kepada mereka. Bahkan Khalifah Ali Kw. mengatakan seterunya saat itu bahwa antara beliau dengan Sayyidina Muawiyah adalah saudara seiman dan satu kalimat, hanya saja khilaf dalam penyelesaian pembunuhan Khalifah Utsman Ra. Bahkan beliau Kw. menyolatkan semua korban perang baik yang di pihak beliau maupun pihak Gubernur Damaskus saat itu.

Syekh Samman Al-Madani Al-Hasani (Pendiri Tarekat Sammaniyah)

Kemunculan Tarekat Sammaniyah bermula dari kegiatan sang tokoh pendirinya, yaitu Syekh Muhammad bin Abdul Karim as-Sammani al-Hasani ai-Madani al-Qadiri al-Quraisyi. Ia adalah seorang fakih, ahli hadits, dan sejarawan pada masanya. Dilahirkan di Kota Madinah pada tahun 1132 Hijriyah atau bertepatan dengan tahun 1718 Masehi. Keluarganya berasal dari suku Quraisy.
Semula, ia belajar Tarekat Khalwatiyyah di Damaskus. Lama-kelamaan, ia mulai membuka pengajian yang berisi teknik dzikir, wirid, dan ajaran tasawuf lainnya. Ia menyusun cara pendekatan diri dengan Allah Swt. yang akhirnya disebut sebagai Tarekat Sammaniyah. Sehingga, ada yang mengatakan bahwa Tarekat Sammaniyah adalah cabang dari Khalwatiyyah.
Demi memperoleh ilmu pengetahuan, ia rela menghabiskan usianya dengan melakukan berbagai perjalanan. Beberapa negeri yang pernah ia singgahi untuk menimba ilmu diantaranya adalah Iran, Syam, Hijaz, dan Transoxiana (wilayah Asia Tengah saat ini). Diantara karya-karya tulis beliau adalah; Mujamu al-Masyayikh, Tazyil at-Tarikh Baghdad, dan Tarikh Marv.
Kemuliaan Syekh Muhammad Samman dikenal sebagai tokoh tarekat yang memiliki banyak karamah. Baik dari kitab Manaqib Syaikh al-Waliy asy-Syahir Muhammad Samman maupun Hikayat Syekh Muhammad Samman, keduanya mengungkapkan sosok Syekh Samman. Sebagaimana guru-guru besar tasawuf, Syekh Muhammad Samman terkenal akan kesalehan, kezuhudan, dan kekeramatannya. Konon, ia memiliki karamah yang sangat luar biasa.
“Ketika kaki diikat sewaktu di penjara, aku melihat Syekh Muhammad Samman berdiri di depanku dan marah. Ketika kupandang wajahnya, tersungkurlah aku dan pingsan. Setelah siuman, kulihat rantai yang melilitku telah terputus," kata Abdullah al-Basri. Padahal, kata seorang muridnya, ketika itu Syekh Samman berada di kediamannya sendiri.
Adapun perihal awal kegiatan Syekh Muhammad Samman dalam tarekat dan hakikat, menurut Kitab Manaqib, diperolehnya sejak bertemu dengan Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
Suatu ketika, Syekh Muhammad Samman berkhalwat (menyendiri) di suatu tempat dengan memakai pakaian yang indah-indah. Pada waktu itu datanglah Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang membawakan pakaian jubah putih dan berkata: "Ini pakaian yang cocok untukmu." Ia kemudian memerintahkan Syekh Muhammad Samman agar melepas pakaiannya dan mengenakan  jubah putih yang dibawanya itu.
Konon, Syekh Muhammad Samman menutup-nutupi ilmunya sampai datanglah perintah dari Rasulullah Saw. untuk menyebarkannya kepada penduduk Kota Madinah.


Wasiat Syekh Samman Al-Madani Al-Hasani (Penjaga Makam Rasulullah Saw.)

Diantara wasiat yang diberikan Syekh Samman al-Madani adalah, berkata al-Imam al-Quthb al-Ghauts az-Zaman al-Waliy al-Quthb al-Akwan asy-Syekh Muhammad bin Abdul Karim as-Samman al-Madani:
·         "Tidaklah aku diangkat Allah Swt. menjadi al-Waly al-Quthb al-Ghauts dan Quthb al-Akwan melainkan aku selalu rutin membaca doa; Allahummaghfir li-ummati sayyidina  Muhammad. Allahummarham li-ummati sayyidinina Muhammad. Allahummastur li-ummati sayyidina Muhammad. Allahummajbur  li-ummati sayyidina Muhammad Saw. 4X berturut-turut setelah selesai sholat Shubuh sebelum berkata-kata urusan dunia  dan dia istiqamah membacanya maka ia menempati martabat fadhilah Quthub.”
Maksud beliau memberikan amalan ini ialah agar kita selalu bersatu sesama ummat islam dan sebagai ummatnya Rasulullah Saw. janganlah ada iri dengki dan buruk sangka terhadap sesama sekalipun seseorang itu kelihatannya hina. Jadi membaca doa ini setelah sholat Shubuh dengan niatan mudah-mudahan semua ummat Rasulullah Saw. diampuni Allah Swt. Atas segala dosa, dimudahkan Allah Swt. tuk mengamalkannya dan dengan harapan semoga hati kita dibersihkan dari segala penyakit hati seperti riya, ujub, takabbur, sombong, iri, dengki, hasud, berperasangka buruk dan sifat-sifat buruk lainnya.
·    “Barangsiapa mengambil thariqah kepadaku dan mengamalkannya niscaya pasti ia akan mendapatkan rasa majdzub di dalam dunia (diambil oleh Allah Swt. aqalnya yang Basyariyyah diganti dengan aqal yang bersifat Rabbaniyah) yakni diambil oleh Allah akan rasa punya wujud dan sifat dan af’al diganti dengan rasa ‘adam mahdhah adam semata” yakni tiada punya wujud, sifat dan af’al melainkan hanya Allah Swt. yang punya wujud hakiki, minimal di saat sakaratul maut.”
·    “Perkataan aku ini seperti perkataan Sayyidi Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Barangsiapa yang menyerukan aku “Ya Samman” 3 kali ketika mendapat kesusahan, niscaya aku akan datang menolongnya.”
Syekh Samman al-Madani meninggal dunia pada hari Rabu 2 Dzulhijjah tahun 1189 H, dan dimakamkan di pemakaman Baqi’ bersandingan dengan maqam  para Istri Rasulullah. Para ualam mengatakan bahwa barangsiapa yang melazimkan membaca Manaqib Sayyidi Syekh Samman (Ratib Samman) berjamaah dengan orang banyak dan membaca al-Qur’an serta bertahlil kemudian bersedekah semampunya dan pahalanya dihadiahkan kepada Sayyidi Syekh Samman, niscaya ia akan dimudahkan rizqinya oleh Allah Swt.

Disarikan dari berbagai sumber.

Sya’roni as-Samfuriy, Indramayu 09 Muharram 1434 H

Muhammad Shahzuan Rafi
Pondok Usang Teratak Buruk
35000 Tapah The Blues 

TUAN GURU HAJI BIDIN



Tuan Guru Haji Bidin atau nama sebenarnya, Zainal Abidin bin Aman bin Mat Ali ialah seorang ulama yang terkenal di Terengganu. Beliau dilahirkan pada 1893 di Kampung Tasik, Wau, Ulu Dungun....

Ketika berusia 11 tahun, belia dihantar belajar dengan Haji Taib Hassan dan Ustaz Baki Awang di Kampung Sindol. Pada 1906, beliau memasuki Pondok Pulau Serai dan berguru dengan Tuan Guru Haji Yusof bin Lebai Isa selama enam tahun.Setelah itu beliau berhijrah pula ke Pondok Losong untuk berguru dengan Tuan Guru Haji Mat Shafie Losong yang terkenal itu. Dua tahun di pondok ini, pada 1914, Haji Bidin berpindah ke Kelantan kerana tertarik dengan kemasyhuran Tok Kenali. Beliau sempat berguru dengan Tok Kenali di Pondok Kenali sehingga 1926. Beliau sempat belajar bersama-sama Sheikh Idris Marbawi.Di samping itu, beliau berulang-alik ke Masjid Muhammadi kerana berguru dengan Tuan Guru Haji Ali Pulau Pisang dan Tuan Guru Haji Yaakub Legor. Di Pondok Kenali ini, Haji Bidin telah menjadi kepala telaah dan sempat mengajar Mufti Haji Ahmad Maher selama enam tahun....

Pengajian beliau tamat pada 1926 kerana Tok Kenali menyuruh beliau balik ke Dungun membuka pondok.Selepas beberapa ketika mengembara, sekitar 1927, Haji Bidin mula mengajar dan membuka pondok di Hulu Sungai Penaga. Ketika yang sama beliau telah dilantik menjadi Imam Muda Masjid Kampung Tengah, Kuala Dungun....

Tujuh tahun kemudian, Haji Bidin telah membuka pondok baru di satu kawasan yang dikenali sebagai Tanah Lot. Pada 1938, sebuah madrasah telah berjaya disiapkan sebagai tempat pengajian. Bagaimanapun, beliau kekal sebagai imam di Kampung Tengah sehingga 1951. Selepas bersara sebagai imam, Haji Bidin sekali lagi memindahkan pondoknya ke Sura Gate, dan mendirikan pusat pengajian yang dikenali sebagai Madrasah az-Zainiyah yang suraunya masih wujud hingga hari ini....

Haji Bidin, selain terkenal kerana alim dalam bidang agama dan menjadi imam di masjid, turut dihormati kerana memiliki keramat tertentu. Banyak cerita yang diriwayatkan tentang keramat yang dimiliki oleh beliau, antaranya tidak ditimpa hujan ketika menaiki perahu bersama kitab-kitabnya walau hujan sedang lebat. Pernah juga berlaku percubaan melanggar beliau dengan kereta, tetapi niat jahat itu terhalang kerana enjin kereta tersebut mati dan ia hanya boleh dihidupkan setelah orang tersebut memohon maaf kepadanya....

Beliau amat disegani oleh masyarakat di Dungun. Beliau juga dikenali sebagai seorang yang warak, lemah lembut, tidak pemarah dan tidak suka bercakap banyak. Beliau dikatakan mengikut perangai Tok Kenali....

Beliau meninggal dunia dalam bulan Ramadan pada 20 Ogos 1977 dan dikebumikan di perkuburan Syed Yahya, Dungun....

AL-FATIHAH....

Tuesday, February 19, 2019

Berfikir Sebelum Bersangka-Sangka



Syurga Neraka seseorang jelas bukan urusan kita sebagai manusia, tetapi bukankah Allah SWT dan Rasulullah saw telah menggambarkan ciri-ciri penghuni Syurga dan jua ciri-ciri penghuni Neraka, maka ada saatnya orang menasihati kita berpandukan dalil, bukan bermakna dia berniat nak kata kita ahli neraka, tetapi dia cuba fahamkan kita bahawa amalan yang kita buat itu menurut Ayat sekian, dan Hadith sekian, adalah perbuatan orang-orang yang melampaui batas dan dijanjikan Allah dosa yang besar buat mereka, malah jika tidak bertaubat sebelum ajal kunjung, maka harapan untuk di humban ke neraka jahanam amatlah besar, ini cerita dia, ngape bangang sangat sukar nak faham....

Tertegaknya Islam dengan dalil, tak kan kamu nak kata orang-orang yang menggunakan dalil Al-Quran dan Hadith sebagai rujukan perbuatan terkutuk kamu itu sebagai sesat dan membuat kenyataan semberono, akai mana akai....

Jika kita senang mendengar orang kata bahawasanya diri kita mempunyai ciri ahli syurga, maka kita jua harus berani mendengar bahawasanya diri kita mempunyai ciri ahli neraka, sebab selagi tiada yang menegur, maka sampai kesudahlah kita akan syok sendiri dengan kejahilan diri sendiri, bila dikatakan ciri tidak bermakna kita kata kamu ahli neraka, tapi tujuan kita nak kamu sedar dan cepat-cepat berubah ke arah lebih baik, biar cerdik sikit dalam memahami penyampaian, jangan hanya tahu rasa diri itu bagus, bodoh sombong ini adalah ciri orang yang sangat rugi, rugi di dunia dan rugi juga di akhirat....

Semoga ia bermanfaat buat diriku, diriku, diriku dan jua buat diri kalian semua....

-One Mysterious
14 J'Akhir 1440 / 19 February 2019
Pondok Usang Teratak Buruk
Tapah The Blues

#Faqir
#TitianPerjalanan
#KulluNafsinZaikatulMaut

Sunday, January 13, 2019

Stop Berdusta Atas Nama Rasulullah saw



Peringatan Keras Daripada al-Quran & al-Sunnah
Kepada Para Periwayat & Penyebar Hadith Palsu

Firman Allah Subhanahu-wa-Ta’ala : “Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang berdusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia dengan tidak berdasarkan ilmu pengetahuan? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim....” -[Surah al-A’am : 144]

Firman Allah Subhanahu-wa-Ta’ala “Pada hari kiamat engkau akan melihat orang-orang yang berdusta terhadap Allah muka-muka mereka hitam....” -[Surah az-Zumar : 60]

Sabda Rasulullah shalallahu-‘alaihi-wasallam dalam salah satu khutbahnya yang dikhabarkan oleh Abu Qatadah radhiallahu-‘anhu:
“Aku mendengar Rasulullah shalallahu-‘alaihi-wasallam bersabda di atas mimbar ini: Hendaklah kamu sekalian menjauhi (daripada) terlalu banyak menyampaikan hadith daripada aku. Maka barangsiapa yang menyampaikan sesuatu (hadith) daripadaku – hendakah dia menyatakan yang sebenar-benarnya (sahih). Dan barangsiapa yang mengada-adakan dusta atas namaku padahal aku tidak (pernah) mengatakannya – maka hendaklah dia mengambil tempat duduknya di neraka....” -[Sunan Ibnu Majah – no: 035]

Sabda Rasulullah shalallahu-‘alaihi-wasallam : “Sesungguhnya berdusta ke atasku (menggunakan namaku) bukanlah seperti berdusta ke atas orang lain (menggunakan nama orang lain). Barangsiapa yang berdusta ke atasku dengan sengaja, maka siaplah tempat duduknya dalam neraka....” -[Diriwayatkan oleh al-Bukhari 1/439 dan Muslim 1/10. Hadith ini adalah mutawatir – Lihat : Ibn al-Salah, ‘Ulum al-Hadith, ms. 239]

Sabda Rasulullah shalallahu-‘alaihi-wasallam : “Jangan kamu berdusta ke atasku. Barangsiapa yang berdusta ke atasku maka dia masuk neraka....” -[Diriwayatkan oleh al-Bukhari 1/52 dan Muslim 1/10]

Sabda Rasulullah shalallahu-‘alaihi-wasallam: “Barangsiapa yang berbohong dengan menggunakan namaku maka dia telah menempah tempat duduknya dalam neraka....” -[Diriwayatkan oleh al-Bukhari – no: 1291 dan Muslim – no: 4]

Sabda Rasulullah shalallahu-‘alaihi-wasallam: “Barangsiapa yang menyebutkan sesuatu dariku sedangkan aku tidak pernah menyebutnya, maka dia telah menempah tempat duduknya di dalam neraka....” -[Diriwayatkan oleh al-Bukhari – no: 109]

Sabda Rasulullah shalallahu-‘alaihi-wasallam: “Akan ada pada akhir zaman umatku sekumpulan manusia bersifat seperti dajjal dan pembohong yang memberitahu kamu tentang hadith yang kamu tidak pernah mendengarnya dan juga tidak pernah didengari oleh bapa-bapa kamu. Janganlah mereka mendekati kamu dan janganlah kamu mendekati mereka. Janganlah mereka menyesatkan kamu dan menjatuhkan kamu ke dalam fitnah....” -[Diriwayatkan oleh Muslim dalam Sahihnya – no: 15]

Pernyataan Para ‘Ulama Hadith Mengenai Wajibnya Mengetahui Dan Menjelaskan Kedudukan Sanad Hadith Semasa Menyebarkannya

Adalah tidak dibolehkan seseorang itu menyebarkan sesebuah hadith yang tidak dapat dipastikan kedudukan sanadnya....

Al-Syu’aib al-Arna’uth berkata:
“Sesungguhnya seorang ulama hadith Syam, Badruddin al-Hasani telah berkata, tidak harus menyandarkan sesebuah hadith kepada Rasulullah shalallahu-‘alaihi-wasallam kecuali apabila dinyatakan kesahihannya oleh seorang huffaz yang dikenali. Sesiapa yang berkata, Rasulullah shalallahu-‘alaihi-wasallam telah bersabda, sedangkan dia tidak tahu kesahihan hadith tersebut dibimbangi dia termasuk dalam hadith yang menyebut: “Sesiapa yang berdusta ke atasku sesuatu yang aku tidak ucapkan, maka siap sedialah tempat duduknya dalam neraka....” -[Syu’aib al-Arna’uth, (nota kaki) Siyar A’lam al-Nubala’ 19/340]

Selain itu, al-Imam al-Thohawi (w321H):
“Sesiapa yang menyampaikan hadith daripada Rasulullah berdasarkan sangkaan (atau tidak pasti), bererti dia menyampaikan hadith daripada baginda secara tidak benar. Sesiapa yang menyampaikan hadith daripada baginda secara tidak benar bererti dia menyampaikan hadith daripada baginda secara batil. Sesiapa yang menyampaikan hadith daripada baginda secara batil (maka) dia berdusta ke atas baginda sebagaimana seorang pendusta hadith. Mereka termasuk dalam sabdanya Nabi shalallahu-‘alaihi-wasallam “Sesiapa yang berdusta ke atas aku maka dia mengambil tempat duduknya di dalam neraka....”.... Kami berlindung daripada Allah Ta’ala daripada sedemikian.... -[Musykil al-Atsar (diteliti oleh Muhammad ’Abd al Salah Syahin; Dar al Kutub al Ilmiah, Beirut, 1995) jilid 1, ms. 123]

Tegasnya, hendaklah seseorang itu terlebih dahulu mengetahui apakah sumber periwayatan serta kedudukan/status sanad hadith (sekadar mampu) tersebut sebelum menyampaikannya kepada orang....

Firman Allah Subhanahu-wa-Ta’ala:
“Dan (diharamkan-Nya) kamu mempersekutukan Allah dengan apa yang Allah tidak turunkan sebarang bukti (dalil yang membenarkannya) dan (diharamkan-Nya) kamu memperkatakan terhadap Allah sesuatu yang kamu tidak tahu....” -[Surah al’Araf : 33]

Menurut ‘Abdullah bin al-Mubarak, beliau berkata:
“Sanad itu adalah sebahagian daripada al-Din (agama). Kalaulah tidak kerana sanad, sesiapa pun akan bercakap apa sahaja yang dia mahu (sekalipun tidak benar)....” -[Riwayat Muslim 1/10]

Mungkin ada yang bertanya, apakah boleh menyandarkan sesuatu hadith yang sudah jelas kedudukan sanadnya sebagai palsu atau dha’if ke atas nama kemuliaan baginda Rasulullah shalallahu-‘alaihi-wasallam dengan alasan kerana inti matan atau teksnya mengandungi sesuatu pengertian yang baik?. Bagi menjawab persoalan ini, cukuplah rasanya penulis menukilkan perkataan Syaikh Jamaluddian al-Qasimi (w1322H) berikut sebagai penjelasan:
“Terdapat tujuan (yang sangat mustahak mengapa) para imam hadith menerangkan tentang sanad dan kelemahannya. Ia lebih besar daripada tujuan menggalakkan ibadah, puasa dan solat. Iaitu untuk membebaskan dan memelihara syariat yang suci daripada sebarang penambahan (atau perubahan). Ini merangkumi penambahan yang baik atau buruk. Apakah lagi keburukan yang lebih besar akan masuk ke dalam syariat yang suci ini daripada dibuka ruang untuk para pendusta mencipta apa sahaja yang mereka suka? Tanpa membezakan antara yang benar dan bohong? Kemudian, siapa yang sanggup namanya digunakan oleh penulis lain bagi membolehkan mereka menulis apa sahaja yang mereka sukai mengenai pemikiran atau perkataan, sekalipun ia (bermaksud) baik? Siapa pula yang menerima jika seseorang berdusta menggunakan nama menteri atau ketua dengan mengeluarkan sesuatu ketetapan atau edaran bersama dengan tanda tangannya? Bolehkah semua itu diterima dengan baik tanpa menganggapnya mempersendakan undang-undang, didenda atau sekurang-kurangnya dibantah? Siapa pula yang dapat bayangkan bahawa dia boleh mengada-adakan suatu perintah tertinggi dan menghebahkannya seakan-akan ia (suatu arahan yang sah) daripada sultan, namun (adakah) dia tidak dihukum (kerana berdusta ke atas nama sultan)? Jika demikian, siapa pula muslim yang dibenarkan untuk berdusta kepada Rasulullah?” -[Al-Qasim, Qawaid al-Tahdith, ms. 165]

Jelasnya, menyebarkan sesuatu hadith sekalipun dengan tujuan yang baik sedangkan telah jelas akan kelemahan atau kepalsuannya di sisi para ilmuan adalah tidak dibenarkan. Ini berdasarkan kepada sebuah hadith Rasulullah shalallahu-‘alaihi-wasallam:

“Sesiapa yang meriwayatkan satu hadith mengenaiku sedangkan dia mengetahui kepalsuannya maka dia tergolong (dalam kalangan) orang-orang yang berdusta....” -[Diriwayatkan oleh Muslim 1/222 – no :1]

Sebagai tambahan, elok rasanya penulis nukilkan pernyataan seorang ulama’ hadith terkemuka dalam mazhab Syafi’e iaitu Ibn Hibban ketika menghuraikan hadith “Cukuplah menjadi satu dosa bagi seseorang yang menceritakan segala yang dia dengari (tanpa mengkaji benar atau tidak)....” -[Diriwayatkan oleh Muslim – no: 5] di mana beliau telah berkata:

“Di dalam hadis ini terdapat larangan kepada sesiapa sahaja supaya tidak menyebut semua perkara (termasuk hadith) sehinggalah dia yakini itu adalah sahih....” -[Tamam al-Minnah Fi’ al-Ta’til ‘Ala’ Fiqh al-Sunnah – Syaikh al-Albani – kaedah no: 11]

Semoga mendapat manfaat, sebaiknya kita selidiki terlebih dahulu sanad sebuah hadis sebelum kita menyebarkannya, jika benar punyai sanad yang sahih dan hadis yang boleh dipercayai maka baru di sebarkan, tetapi jika was-was dan tiada sanad yang jelas, maka tinggalkan lah, kerana itu lebih baik, kerana kita sangat khuatiri jika kita termasuk dalam golongan yang diperkatakan Rasulullah saw di atas....

Sekian, Wabillahi Taufiq Wal Hidayah Wassalamualaikum Warahmatullahi Taala Wabarakatuh....

One Mysterious Generation Official 489
Wakaf 03 Pondok Highway, LRUS,
35000 Tapah The Blues

Almarhum Habib Munzir Sorong ke Papua

SAAT HABIB MUNZIR MENANGIS PENUH RASA MALU KARENA SEORANG BIARAWATI

Di tengah perjalanan dakwah dari Sorong menuju Teminabuan Papua, Habib Munzir dan rombongan menyewa mobil 4×4 bak terbuka. Di tengah perjalanan rombongan ini diberhentikan oleh salah seorang Biarawati berusia di atas 50an tahun. Sepertinya ia ingin ikut menumpang mobil. Bang Asri (yang menyupir mobil) menanyakan kepada Habib Munzir, karena mobil ini sudah dicarter oleh Habib Munzir dan rombongan. "Habib, apakah ibu Biarawati ini boleh dinaikkan...?". Tanya Bang Asri kepada Habib Munzir.

Tanpa pikir panjang lagi Habib Munzir menjawab : "Boleh, tapi mau ditempatkan dimana...? Disini sudah tidak ada tempat".
"Taruh di bak belakang aja Bib, bersama barang-barang" kata Bang Asri.

"Hmmm...tapi saya merasa tidak tega jika Ibu itu harus duduk di belakang bersama barang-barang" jawab Habib Munzir.

"Dia sudah biasa seperti itu kok Bib" jawab Bang Asri.

Mendengar jawaban "sudah biasa" tersebut, Habib Munzir merasa kaget dan terkejut, beliau menceritakan, saya kaget dan merasa tercekik mendengarnya, "sudah biasa...?", "Dia sudah biasa seperti itu Bib", seorang Biarawati penyeru kepada Agama keyakinannya, ia ternyata sudah terbiasa untuk berjalan dan duduk di bak bagian belakang dari kampung ke kampung demi berjuang untuk menyebarkan keyakinannya.

Kata Habib Munzir lagi : "Maka tidak salah kalau seandainya Agama non muslim yang menjadi maju, karena para Da'i muslim hanya bersembunyi di kota-kota besar, tidak mau keluar seperti mereka. Maka jangan salahkan mereka jika muslimin semakin mundur, karena para Da'inya juga semakin mundur. Dan ketika sopir mengatakan ia sudah terbiasa, maka semakin sakit hati saya, bukan semakin tenang tapi semakin sakit saya mendengarnya."

Dan Ibu Biarawati tersebut pun naik di bak belakang mobil 4X4 yang dipakai, 1 tempat bersama barang-barang.

Perjalanan pun diteruskan, 1 jam perjalanan terasa rintik-rintik gerimis mulai turun. Melihat itu Habib Munzir menjadi gelisah, risau, tak tenang, ia terpikir kepada Ibu Biarawati yang sedang duduk di bak belakang.

Kata Habib Munzir : "Hati saya terasa tercekik, sungguh..! walaupun ia adalah seorang non muslim, tapi bagaimanapun ia adalah seorang wanita yang usianya cukup tua, duduk di bak terbuka di belakang dengan terpaan hujan, ia seorang pemuka dan guru agama non muslim, ia sangat tabah dalam berdakwah membela agamanya dengan semangat juang yang luar biasa, ia berjalan dari kampung ke kampung, terus mengajar dengan sukarela sepanjang hidupnya, mengabdi pada agamanya, sampai-sampai ia rela duduk di bak belakang mobil, dalam terpaan hujan dan panas, ia wanita, sudah cukup lanjut usia, demikian tabahnya Da’i non muslim ini, hati saya seperti tercabik-cabik, saya malu, malu sekali..."

Hujan pun turun semakin deras, Habib Munzir semakin gelisah. Beliau sudah tak tahan lagi, semakin risau dengan keadaan Ibu Biarawati tersebut.

"Berhenti Bang Asri, berhenti..!" kata Habib Munzir seketika sambil memegang tangan Bang Asri. Lalu Bang Asri pun menghentikan mobil.

"Ada apa Bib...?" Tanya Bang Asri

"Saya mau pindah ke bak belakang menggantikan posisi Ibu itu, biar Ibu itu duduk di dalam sini menggantikan tempat duduk saya" jawab Habib Munzir.

Mendengar hal itu Bang Asri menjadi kaget dan tentu saja menolak. "Itu tidak mungkin Habib, tidak mungkin Habib turun dan pindah ke bak belakang..!, Habib sudah carter mobil saya...!!, lagi pula ini sedang hujan Habib...!!"

Habib Munzir menjawab : "Dia seorang wanita yang lebih tua dari saya, meskipun ia beda Agama, Rasulullah SAW sangat menghormati orang yang lebih tua..."

Habib Munzir tetap bersikeras memaksa, akhirnya mau tidak mau Bang Asri yang menyupir mobil pun pasrah menuruti.

Habib Munzir pindah ke bak belakang, beberapa rombongan yang lain pun ikut ingin ke belakang, tetapi Habib Munzir melarang mereka : "Yang lainnya tetap pada posisinya, cukup 1 orang yang menemani saya di bak belakang, sudah ada 1 orang penjaga barang kok di belakang"

Dan mereka pun sangat bersempit-sempit 4 orang di kursi belakang. Tapi ternyata Ibu itu tak mau pindah, ia tetap mau duduk di bak saja, ia seakan merasa tahu diri bahwa dirinya menumpang, ia merasa malu dan haru.

"Kalau Ibu tidak mau turun dan masuk ke dalam maka saya tidak akan mau naik ke mobil" jawab Habib Munzir.

Mau tidak mau akhirnya ibu itu pun masuk ke dalam mobil. Habib Munzir duduk di bak belakang di temani KH. Ahmad Baihaqi. Di saat itu hujan turun semakin deras membasahi tubuh Habib Munzir yang duduk di bak terbuka. Habib Munzir membuka Imamah (sorban) dan kacamatanya, ia hanya memakai peci putih. Dalam perjalan Habib Munzir menangis, bukan menangis karena keadaannya, tetapi menangis karena faktor Biarawati tadi.

Kata Habib Munzir : "Saya menangis, memikirkan, betapa kuat dan tabahnya Biarawati itu dan betapa malunya saya, karena saya dimanjakan di Jakarta, saya hanya sekedar turun dari mobil dan naik ke mimbar, sedangkan mereka, para Da'i non muslim di wilayah pedalaman, terus berdakwah, maka siapa yang akan terjun ke sana jika kita para Da'i muslim hanya duduk di kota-kota besar...?"

Dalam derasnya hujan itu mobil kembali berhenti. Bang Ipul (Saeful Zahri) turun dan meminta agar Habib Munzir masuk ke dalam menggantikan tempat duduknya, tapi Habib Munzir menolak : "Saya sudah duduk dan malas berdiri lagi, kalau mau ganti saja KH. Ahmad Baihaqi ke depan, tapi saya tidak mau pindah".

Maka demikian bergantian beberapa waktu terus 4 personil bergantian pindah ke belakang, namun Habib Munzir tetap tak ingin beranjak dari tempat duduknya, hanya yang lain saja bergantian.

Habib Munzir menceritakan : "Saya duduk di bak belakang untuk membalas rasa pilu saya akan semangat seorang wanita tua itu, yang penyeru kepada Agama non muslim, aku seorang penyeru ke jalan Allah SWT, aku malu, malu pada Allah... Patutnya aku berjalan kaki 200 Km, bukan duduk di bak terbuka yang masih bisa santai, apa yang harus saya jawab apabila Allah SWT menanyakan akan hal ini kepada saya di Yaumil Kiyamah..."

Masya Allah... Demikian indahnya akhlak Guruku dan Guru kalian... Semoga Allah SWT muliakan ruhnya bersama Para Sholihin, Para Shiddiqin dan Imam Ahlus Sholihin wa Shiddiqin... Datuknya Sayyidinaa Muhammad SAW... Aamiin Yaa Robbal Aalamiin....

(Keterangan Foto: Perjuangan Habib Munzir berdakwah di Papua - Irian Barat)



#SantriNUIndonesia
#DzyriyatunNabi
#AlHabibMundzir

-One Mysterious Generation Official 489
-Pondok Highway 35000 Tapah The Blues

Thursday, October 4, 2018

Tazkirah Jangan Ego



Semakin kita di penghujung, maka kita akan lihat makin banyak perkara mungkar yang dibuat oleh manusia, dan bertambah-tambah pula kebangangan segelintir dari kita....
Pastu bila orang tegur kemungkaran super jahiliah itu, maka mula keluar ayat, "Kita Siapa Nak Campur Urusan Orang" . "Dosa Antara Aku Dengan Allah SWT". Dan macam-macam lagi lah, seumpama kat muka bumi ini mereka sahaja yang Allah SWT ciptakan, barangkali mereka lupa pesanan Rasulullah saw kepada kita tentang menegur orang-orang yang membuat kemungkaran, Dari Abu Said Al-Khudri r.a berkata: Aku mendengar Rasulullah s.a.w bersabda:

من رأى منكرًا فليغيره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان

“Barangsiapa yang melihat kemungkaran maka hendaklah dia mencegah dengan tangannya, sekiranya dia tidak mampu, maka dengan lisannya, dan sekiranya dia tidak mampu (juga), maka dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemah keimanan....”
-(Riwayat Imam Muslim dalam Sahihnya dari hadis Abu Said r.a)

Dan tentang sebuah hadis lagi, Rasulullah s.a.w bersabda:

إن الله يسأل العبد يوم القيامة حتى يقول له‏:‏ ما منعك إذا رأيت المنكر فلم تغيره‏؟‏ فيقول‏:‏ خشيت الناس، فيقول الله تعالى‏:‏ ‏(‏أنا أحق أن تخشاني‏)‏‏.

“Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada hambaNya di hari kiamat sehingga Dia berfirman: Apa yang menghalangi kamu apabila merlihat kemungkaran namun kamu tidak mencegahnya? Maka dia pun menjawab: Aku takut pada manusia. Maka Allah berfirman: Aku lebih berhak untuk engkau takuti....”
-(Riwayat Imam Ahmad dalam Musnadnya dari hadis Abu Said Al-Khudri r.a)

Kita harus beringat, ada segelintir saudara kita di luar sana menegur kesalahan dan kesilapan kita kerana mereka menjalankan tanggungjawab sesama saudara semuslim, kerana wujud sifat kasih sayang di dalam jiwa mereka terhadap saudara seagama itulah yang membuat mereka ingin menyelamatkan kita ini dari terus hanyut dengan perkara-perkara mungkar yang dibenci Allah SWT....

Semoga tazkirah ringkas ini dapat kita renungkan bersama, didalam kehidupan ini jangan kita pentingkan diri, lawan ego dalam diri itu, jangan biarkan dia mengusai minda kita....

Sekian, Wabillahi Taufik Wal Hidayah Wassalamualaikum Warahmatullahi Taala Wabarakatuh.... -M.S.R

22:48 - Khamis - 24 Muharram 1440H
04 Oktober 2018

One Mysterious Generation Official 489
Pondok Usang Teratak Buruk
35000 Tapah The Blues

#ThisIsNotScam #GoGoPowerRangers

#AlifLamMim #OMG489 #LegasiTG13
#CintaHatiBeta #MaalHijrah #InsanFaqir
#TitianPerjalanan #KulluNafsinZaikatulMaut

Fardhu Ain Yang Harus Difahami



-Tentang Islam kita dapat temukan dalam ilmu fiqih, sasarannya syari’at lahir, umpanya, sholat, puasa, zakat, naik haji, perdagangan, perkawinan, peradilan, peperangan, perdamaian dll....

-Tentang Iman kita dapat temukan dalam ilmu tauhid (usuluddin), sasarannya  i’tiqad (akidah / kepercayaan), umpamanya bagaimana kita (keyakinan dalam hati) terhadap Tuhan, Malaikat-Malaikat,  Rasul-Rasul, Kitab-kitab suci, kampung akhirat, hari bangkit, surga, neraka, qada dan qadar (takdir)....

-Tentang Ihsan kita dapat temukan dalam ilmu tasauf, sasarannya akhlak, budi pekerti, bathin yang bersih, bagaimana menghadapi Tuhan, bagaimana muraqabah dengan Tuhan, bagaimana membuang kotoran yang melengket dalam hati yang mendinding (hijab) kita dengan Tuhan, bagaimana Takhalli, Tahalli dan Tajalli.... Inilah yang dinamakan sekarang dengan Tasawuf....

-Setiap Muslim harus mengetahui 3 (tiga) unsur ini sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya dan memegang serta mengamalkannya sehari-hari....

-Pelajarilah ketiga ilmu itu dengan guru-guru, dari buku-buku, tulisan  atau dalam jama’ah / manhaj / metode / jalan....

-Waspadalah jika jama’ah / manhaj / metode / jalan yang “menolak” salah satu dari ketiga ilmu itu karena itu memungkinkan ketidak sempurnaan hasil yang akan dicapai....

-Jadi syarat untuk mendalami ilmu Tasawuf (tentang Ihsan) terlebih dahulu harus mengetahui ilmu fiqih (tentang Islam) dan ilmu tauhid / usuluddin (tentang Iman)....

-Dengan ketiga ilmu itu kita mengharapkan meningkat derajat/kualitas ketaqwaan kita....

-Mulai sebagai muslim menjadi mukmin dan kemudian muhsin atau yang kita ketahui sebagai implementasi Islam, Iman dan Ihsan....

-Orang-orang yang paham dan mengamalkan ilmu Tasawuf dikenal dengan nama orang sufi ❤️❤️❤️❤️....



Kredit: TV Tarikat

One Mysterious Generation Official 489
Pondok Usang Teratak Buruk
35000 Tapah The Blues

#AlifLamMim #OMG489 #LegasiTG13
#CintaHatiBeta #MaalHijrah #InsanFaqir
#TitianPerjalanan #KulluNafsinZaikatulMaut